Showing posts with label ISLAM DI AMERIKA. Show all posts
Showing posts with label ISLAM DI AMERIKA. Show all posts

Friday, February 15, 2008

Oprah Winfrey Show Tonjolkan Kebenaran Islam

Oleh Akmal

Hati saya melambung tinggi penuh dengan suka cita dan kebanggaan sebagai Muslim ketika sebuah grup nasyid melantunkan nada-nada penuh semangat pada acara Musda DPD PKS Kota Bandung yang diselenggarakan di Pusdai, Bandung, Ahad (07/05) lalu.

Sebagian karena memang nasyid itu sangat menggetarkan hati, sebagian lagi karena beberapa jam sebelumnya saya baru saja dibuat terpana dengan salah satu episode talk show paling laris di dunia, yaitu The Oprah Winfrey Show.


Dalam episode yang ditayangkan siang itu, fokus pembicaraan adalah tentang diskriminasi rasialis terhadap umat Islam. Ceritanya, selama 30 hari penuh, seorang lelaki dari AS yang apriori terhadap Islam diajak tinggal bersama sebuah keluarga Muslim dan bahkan disuruh ‘menyamar’ sebagai seorang Muslim, lengkap dengan janggut dan pakaian gamis panjang seperti yang dipakai oleh orang-orang Arab. Salah satu misinya adalah mengenali kehidupan seorang Muslim yang sebenarnya dan merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim yang sering menerima diskriminasi oleh orang lain di AS.


Singkat kata, ia merasakan betul bagaimana pahitnya menjadi seorang Muslim yang dicurigai hanya lantaran janggut dan baju gamis, padahal semua tuduhan itu sama sekali tanpa bukti. Ia telah berkeliling kota dengan penampilan seperti itu, dan respon instan yang diberikan orang-orang terhadapnya sangat menyakitkan.

Bahkan sebagian besar warga AS yang diajaknya bicara secara terang-terangan menolak untuk tidak mendiskriminasikan umat Islam karena mereka yakin betul bahwa semua Muslim adalah teroris.


Di sisi lain, 30 hari yang dihabiskannya bersama sebuah keluarga Muslim benar-benar menunjukkan sebaliknya. Ia merasa bahwa keluarga itu sangat harmonis, dan meskipun banyak kebiasaan yang tidak dipahaminya, namun ia mengakui bahwa banyak masalah bisa terpecahkan dengan ajaran Islam.


Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika lelaki itu duduk dan mengobrol bersama istri sang tuan rumah berdua di sebuah ruangan.

Kemudian sang tuan rumah datang dan mengatakan bahwa dalam Islam dijelaskan bahwa ketika dua orang lawan jenis yang bukan muhrim dan bukan suami istri berada dalam satu ruangan, maka akan ada pihak ketiga bersama mereka, yaitu syetan.

Hal pertama yang dipikirkan oleh sang lelaki non-Muslim tersebut adalah bahwa prinsip ini benar-benar gila. Tapi di hadapan Oprah dan semua penonton di studio saat itu, akhirnya ia mengakui bahwa prinsip hubungan antar lawan jenis dalam Islam seperti demikian itu sepertinya benar-benar bisa mengakhiri banyak masalah yang terjadi dalam pergaulan di AS yang serba bebas.

Pencabulan, perzinaan, penyimpangan seksual, perselingkuhan, sampai penyebaran HIV / AIDS pun bisa dicegah dengan cara ini, lebih efektif daripada cara apa pun.


…dan saya pun terpana dengan mulut terbuka lebar mendengar pengakuannya.
Saya tidak pernah menyangka seorang non-Muslim akan dengan begitu beraninya mengakui kebenaran Islam di hadapan begitu banyak kamera televisi.

Dan walaupun saya mengakui keberanian Oprah dalam mengangkat tema-tema yang kontroversial, saya tetap terpana melihat bagaimana ia berani menggiring acara talk show tersebut dengan cara yang amat objektif.
Maka sekarang jelaslah tugas kita semua.

Anda bisa melihat sendiri betapa buruknya citra Islam di mata banyak orang. Oprah telah membuka jalan bagi syiar Islam, yaitu dengan membuktikan bahwa keteladanan akan menghancurkan semua asumsi yang salah.

Kalau mereka tidak mau percaya pada kata-kata, maka buktikanlah dengan perbuatan! Buktikanlah bahwa umat Islam bukan teroris! Kita harus membuktikan bahwa kita adalah sebenar-benarnya umat terbaik (khairu ummah) yang mampu memberikan solusi bagi seisi bumi. Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menjadi beban.


Dan kita memang mampu memberikan solusi, asalkan kita terus berpegang pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tidak ada petunjuk yang lebih jernih daripada keduanya. Sesungguhnya kebenaran adalah kebenaran. Tidak peduli ras mana pun, bangsa apa pun, atau bagaimana pun keadaannya, kebenaran akan selalu diterima sebagai kebenaran. Kalau mereka menolak, mungkin karena mereka belum melihat buktinya.


Tugas kita sekarang adalah memberi pembuktian!

wassalaamu’alaikum wr. wb.


sumber

Saturday, January 5, 2008

Muslim Amerika Berpuasa Ramadhan (video)

Keith guna al-Quran milik Jefferson


NANCY Pelosi (kiri) yang mencipta sejarah sebagai wanita pertama memegang jawatan Speaker Dewan Perwakilan Amerika Syarikat menyempurnakan majlis angkat sumpah Keith Ellison menggunakan al-Quran yang dipegang oleh isterinya, Kim di Capitol Hill, Washington, kelmarin. – AP.

Anggota Dewan Perwakilan Amerika Syarikat (AS), Keith Ellison mengangkat sumpah semalam selaku anggota pertama beragama Islam dengan menggunakan al-Quran yang pernah dimiliki bekas Presiden, Thomas Jefferson.

Dalam majlis persendirian, Keith yang diapit oleh isterinya, Kim dan empat anak dan ditemani sanak-saudara dan tetamu jemputan mengangkat sumpah menggunakan naskhah al-Quran yang dibalut dengan kulit dipinjam dari Perpustakaan Kongres.

Majlis angkat sumpah itu berlangsung di depan Speaker Dewan Perwakilan, Nancy Pelosi selepas angkat sumpah rasmi 435 anggota baru dewan bagi penggal ke-110, semalam.

Ketika berkata kepada ABC News sebelum majlis, Keith memberitahu, langkahnya mengangkat sumpah menggunakan al-Quran adalah perkara semula jadi kerana ia kitab kepercayaan orang Islam.

“Ia merupakan kitab yang saya baca setiap hari dan tempat saya mendapatkan inspirasi,” kata Keith yang menganut agama Islam semasa menuntut di kolej.

baca lagi

Monday, December 17, 2007

Agama Paling Cepat Berkembang di Dunia Hari Ini

Klik di link ini untuk melihat videonya

http://youtube.com/watch?v=1Da6nvl2ahA&feature=related

"Moslem are the world fastest growing group"
"Orang-orang Islam adalah umat yang paling cepat perkembangannya di dunia."
(The Population Reference Bureau, USA Today)

"Islam is the fastest-growing religion in America..."
"Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Amerika..."
(Hillary Clinton-Los Angeles Times)

"Islam is the fastest-growing religion in the country."
"Islam adalah agama yang paling sepat berkembang dalam negara."
(Geraldine Baum, Newsday Religion Writer, Newsday)

"Islam is the fastest-growing religion in the United States..."
"Islam adalah agama yang paling pantas berkembang di Amerika Syarikat..."
(Ari L. Goldman, New York Times)



POPULASI PENDUDUK DUNIA

TAHUN 1900 Muslim 12.4 % Kristian 26.9%
TAHUN 1980 Muslim 16.5 % Kristian 30.0 %
TAHUN 2000 Muslim 19.2 % Kristian 29.9 %

Kajian menunjukkan jangkaan berikut:

TAHUN 2025 Muslim 30.0 % Kristian 25.0 %

Saturday, December 15, 2007

Kisah Abang Michael jackson Peluk Islam


JERMAINE Jackson yang mengenakan jubah dan igal kini mahu dikenali sebagai Muhamad Abdul Aziz.

Susunan: SITI AINIZA KAMSARI

BARU-BARU ini tersebar melalui Internet dan e-mel kononnya Raja Pop dunia, Micheal Jackson memeluk Islam. Malah beliau juga dikatakan menyanyikan sebuah lagu bertajuk Du’aa yang memuji Allah dengan begitu indah.

Namun, setelah diteliti dan diperhalusi rupa-rupanya lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang penyanyi terkemuka dari Afrika Selatan bernama Zain Bhikha. Namun, menurut abang Micheal, Jermaine Jackson, adalah tidak mustahil suatu hari kelak adiknya akan memeluk Islam.

Katanya, apa yang lebih penting Micheal kini tidak mempunyai pandangan yang serong dan sempit terhadap Islam setelah membaca beberapa buku penerangan mengenai Islam yang diberikan kepadanya.

"Micheal kini lebih memahami Islam dan sering juga bertanyakan mengenai agama itu. Berbanding dahulu, seperti kebanyakan warga Barat yang lain, Micheal juga terpengaruh dengan pelbagai dakwaan yang negatif terhadap Islam," katanya.

Mungkin kerana Islam itu sendiri, Micheal kini beralih tumpuan perniagaannya di Asia Barat. Malah beliau kini mempunyai sebahagian pegangan saham di sebuah syarikat milik Putera Arab yang berstatus bilionair, Waleed Talal.

Jermaine, salah seorang anggota kumpulan Jackson 5 yang mengecap kegemilangan dan kemasyhuran pada era 1980-an, memeluk Islam pada awal 1990. Jermaine atau nama sebenarnya Jermaine LaJaune Jackson yang dilahirkan pada 11 Disember 1954 di Gary, Indiana kini lebih dikenali sebagai Muhammad Abdul Aziz,

Berita pengislamannya itu begitu mengejutkan dunia Barat dan peminat seninya. Mereka sama sekali tidak menyangka Jermaine akan memeluk Islam dan kini memilih hidup yang cukup berbeza berbanding kehidupannya dahulu.

Sedangkan pada akhir kariernya sebagai penyanyi, beliau sempat berduet dengan Pia Zadora pada tahun 1985 dalam lagu When The Rain Begins To Fall yang menduduki tempat teratas beberapa carta single di Eropah. Pada tahun 1989, albumnya yang bertajuk Don’t Take It Personal menjadi hit nombor satu dalam Carta Billboard R&B Singles.

Pada tahun 1989, bersama dengan adiknya, Janet Jackson, mereka mengadakan persembahan di beberapa negara Asia Barat. Ketika menetap di Bahrain, Jermaine berpeluang menemui sekumpulan kanak-kanak negara itu yang datang menemui beliau.

"Kanak-kanak tersebut tanpa segan silu terus bertanyakan mengenai agama anutan saya, lalu saya menjawab saya seorang Kristian dan saya juga terus bertanyakan kepada kanak-kanak itu akan agama mereka pula.

"Tanpa saya sangka, agak mengejutkan apabila mereka menjawab ‘Islam’ dengan bangganya tanpa ragu-ragu," katanya.

Tanpa perlu bertanya lanjut, kanak-kanak itu juga bercerita kepada Jermaine akan agama Islam dengan pelbagai maklumat yang menarik walaupun bunyinya begitu keanak-anakan.

"Melihat kesungguhan mereka menerangkan Islam, saya menjadi kagum malah saya berasa sungguh damai mendengarkan penerangan mereka itu," katanya.

Sejak peristiwa itu, Jermaine mengambil peluang mengadakan perbincangan yang panjang lebar mengenai Islam dengan beberapa ulama dan tokoh Islam terkemuka di Bahrain.

"Ini menyebabkan hati dan pemikiran saya mula berkocak hebat," katanya yang pada zaman kegemilangannya pernah dicalonkan untuk Anugerah Grammy dalam kategori Best Male R&B Vocal Performance melalui albumnya Let’s Get Serious pada tahun 1979.

Begitupun, Jermaine belum sepenuhnya mendapat ‘hidayah’ untuk memeluk Islam dan menganggap semua maklumat yang diperoleh tentang Islam tidak akan mengubah dirinya sebagai penghibur dan dia akan terus kekal sebagai penggiat seni dan muzik Barat.

"Namun hati saya ketika itu sebenarnya telah pun ‘memeluk’ Islam, cuma tidak mampu untuk dilafazkan melalui kata-kata," katanya.

Beliau kemudian memberitahu perasaannya itu kepada seorang sahabat yang bernama Qunber Ali yang kemudiannya membawa Jermaine ke Riyadh, ibu negara Arab Saudi .

"Sehingga ke saat itu, saya masih tidak mengetahui mengenai Islam sehinggalah sebuah keluarga daripada kerabat diraja Arab Saudi membawa saya untuk melakukan umrah di Mekah. Di situ, buat pertama kalinya saya mengucap dua kalimah syahadah bagi mengesahkan pengislaman saya," katanya.

Setelah memeluk Islam, Jermaine mendapatinya dirinya bagai dilahirkan semula. Ini kerana Islam telah memberikan jawapan kepada pelbagai keraguan beliau sebelum ini terutama mengenai agama asalnya.

"Islam memberikan jawapan yang sangat memuaskan hati terutama mengenai kelahiran dan kenabian Nabi Isa a.s. dan saya berdoa agar seluruh keluarga saya juga dapat menerima hakikat yang sama," katanya.

Seluruh keluarga Jackson adalah pengikut ajaran Kristian yang dikenali sebagai Avendance of Jehova (Penyaksian Jehova) dan antara ajaran yang menjadi pegangan adalah hanya seramai 144,000 lelaki di muka bumi ini layak memasuki syurga.

"Dari dahulu lagi akal saya tidak dapat menerima fakta yang sedemikian dan begitu juga apabila kitab Bible sebenarnya lebih mengumpulkan kata-kata manusia di dalamnya berbanding ajaran sebenar dan kata-kata daripada Tuhan," katanya.

Pelbagai cara dilakukan oleh Jermaine untuk mengenali Islam. Semasa di Mekah beliau mengambil kesempatan menikmati lagu-lagu nasyid dan mendalami lirik lagu seperti yang dinyanyikan oleh Yusuf Islam (Cat Stevens).

"Saya juga banyak belajar daripada beliau mengenai Islam berikutan kami mempunyai latar belakang, kerjaya dan kebolehan yang hampir sama sebelum ini," katanya yang juga sering belajar mengenai Islam dengan bekas juara tinju dunia, Muhammad Ali.

Namun, apakah sambutan yang beliau terima apabila pulang ke Amerika Syarikat selepas secara rasmi memeluk Islam itu?

"Saat itu merupakan kesempatan yang diambil sepenuhnya oleh media Barat dalam mengalunkan satu orkestra propaganda yang memburuk-burukkan Islam dan umatnya. Apabila mereka mendapat tahu saya memeluk Islam, pelbagai gosip dan tohmahan yang mereka sebarkan mengenai saya sehinggakan saya benar-benar terganggu.

"Malah keluarga saya turut menerima kesannya. Begitu banyak surat-surat dan kiriman kecaman dan ancaman yang tidak putus-putus mengganggu kami," katanya.

Jermaine bertindak rasional malah berasa hairan dengan fobia pihak Barat terhadap Islam sedangkan mereka tidak cuba mengenali Islam dan jauh sekali cuba menyelami tekanan yang dihadapi oleh umat Islam angkara perbuatan dan sikap melampau Barat sendiri.

Beliau juga tidak ambil peduli dengan apa juga kisah yang cuba didedahkan oleh media mengenai dirinya.

"Kebebasan yang diamalkan oleh media Barat itu akhirnya memakan diri mereka sendiri kerana pada akhirnya ia membentuk dan menyerlahkan lagi sikap hipokrasi masyarakat Amerika ke tahap yang tertinggi.

"Ini kerana siapakah mereka untuk mengutuk atau mencerca Islam sedangkan mereka sendiri tidak mengikut ajaran agama masing-masing dan tidak

berusaha mencari jalan untuk hidup bersama dengan aman malah lebih suka mencari keburukan orang lain. Adakah ini boleh menyelesaikan masalah?" katanya.

Menurut Jermaine, Islam banyak menguraikan kekusutan jiwa pada dirinya kerana kesanggupan beliau merubah diri mengikut seperti yang diajarkan oleh Islam. Ia benar-benar memberi satu kehidupan baru yang lebih bermakna dan memberinya pandangan hidup yang lebih positif dan rasional.

Bercakap mengenai keluarga Jackson, Jermaine berkata, pelbagai ancaman yang diterima oleh keluarga beliau itu akhirnya dapat ditangani dengan baik.

"Mujur seluruh ahli keluarga saya mempunyai fikiran yang terbuka. Sebenarnya telah menjadi tradisi keluarga kami agar sentiasa membuat kawan dan bersahabat baik dengan sesiapa pun tanpa mengira perbezaan agama.

"Disebabkan amalan seperti inilah mungkin menyebabkan saya terbuka untuk mengenali Islam dan alhamdulillah ia memandu saya kepada kehidupan yang lebih baik," katanya.

Mengenai adiknya dan khabar-khabar angin yang bertiup kencang mengatakan Micheal juga telah memeluk Islam, Jermaine berkata, beliau boleh mengesahkan adiknya itu belum lagi mengikut jejak langkahnya.

"Micheal tidak memeluk Islam tetapi dia juga tidak menentang atau mencemuh Islam malah lagu-lagunya banyak mengajar supaya kita semua supaya berkasih sayang sebagaimana yang diajarkan oleh ibu bapa kami sebelum ini.

"Tetapi siapa tahu pada suatu hari Micheal akan memeluk Islam. Hanya masa dan takdir yang akan menentukan. Sebagaimana juga tidak ada sesiapa yang memaksa saya untuk memeluk Islam. Begitu juga kepada Micheal, tidak ada sesiapa yang boleh memaksa untuknya memeluk Islam," katanya yang pernah berduet dengan adiknya dalam lagu yang begitu popular, Tell Me I’m Not Dreamin, pada tahun 1984.

Seorang lagi adik beliau yang juga sangat popular, Janet, sangat terkejut dengan pengislaman abangnya itu. Janet lebih melucukan kerana apabila sebut sahaja Islam, apa yang beliau tahu dan menjadi ketakutannya ialah soal poligami.

"Jadi, saya jelaskan kepadanya bahawa poligami itu sesuatu yang dibenarkan malah ia sebenarnya satu perkara yang mulia berbanding mempunyai hubungan sulit dengan ramai perempuan. Malah itulah yang berlaku kepada kebanyakan lelaki Barat yang telah berkahwin... mereka mempunyai hubungan sulit yang menyebabkan punca kerosakan moral dan menggugat kestabilan masyarakat.

"Jika seorang lelaki secara emosi terpikat dengan wanita lain maka ia patut menghalal dan menghormati hubungan itu dengan perkahwinan. Jika tidak, dia patut mempunyai seorang isteri sahaja," jelasnya.

Menurut Jermaine, setiap wanita dalam Islam umpama sekuntum bunga yang kembang mekar dalam sebuah taman larangan yang mesti dijaga dan dilindungi daripada sebarang makhluk perosak sekalipun yang bernama lelaki.

Lagipun, katanya, dalam seluruh populasi umat Islam di seluruh Amerika Syarikat, tidak sampai 10 peratus penganutnya yang mengamalkan poligami. Jadi, tidak ada sebab untuk adiknya itu berasa bimbang.

Melalui tiga perkahwinan sebelum ini iaitu dengan Hazel Gordy pada 1973, Margaret Maldonado 1988 (tanpa nikah) dan Alejandra Genevieve Oaziaza (1989), Jermaine mempunyai tujuh anak lelaki dan dua anak perempuan.

"Mereka saya didik sepenuhnya berorientasikan ajaran Islam," katanya.

Walaupun Jermaine dikatakan sudah bercerai dengan Alejandra pada tahun 2004 namun ada versi yang mengatakan isterinya itu juga berminat dan sedang mempelajari Islam.

Begitu pun, beliau yang kini beristerikan Haleema Rasheed masih belum beroleh anak. Kini mereka memilih menetap di Dubai dan Bahrain dan masih giat melakukan pelbagai kegiatan seni yang berunsurkan Islam.

Baru-baru ini beliau bercadang membuka sebuah kompleks hiburan di Yerevan, Armenia yang turut memuatkan hotel, restoran dan syarikat televisyen yang kesemuanya berorientasikan Islam dan budaya tempatan.

"Insya Allah, semua adik-beradik saya terutama Micheal dan Janet akan hadir dan memberikan sumbangan bagi menjayakan kompleks itu," katanya penuh yakin.

UTUSAN MALAYSI 8 JUN 2006

Wednesday, November 28, 2007

Azan Berkumandang di Gereja di New York

New York, NU Online


"Allahu Akbar Allaahu Akbar... Laa Ilaaha Ilallaah", demikian azan --panggilan salat bagi kaum muslim-- dilantunkan dari awal hingga akhir dengan suara bariton oleh Christopher Herbert dan menggema di Gereja Marble Collegiate di kawasan Manhattan, New York.

Suara azan yang dikumandangkan anggota jamaah Marble Collegiate Church itu merupakan salah satu acara yang mengawali berlangsungnya dialog segitiga kalangan penganut agama Kristen, Yahudi dan Islam di New York, Minggu.

Dialog yang mengusung tema "Perspektif dari Tiga Agama" tersebut menghadirkan tiga pemimpin agama, yaitu pemimpin masyarakat muslim Indonesia Syamsi Ali, Pendeta Yahudi Peter J. Rubinstein, dan Pendeta Edwin G. Mulder --mewakili komunitas Marble Collegiate Church.

Mengawali sesi dialog, Syamsi Ali, yang juga Ketua Dewan Masjid Al-Hikmah New York, membawakan bacaan Alquran Surat Ali Imran ayat 102 yang maknanya menekankan bahwa persaudaraan merupakan sebuah karunia. Tidak hanya azan, dialog itu juga dimulai dengan pembacaan doa dan puji-pujian ala Yahudi dan Kristen.

Menurut Syamsi, pengumandangan azan oleh salah satu Gereja telah melalui konsultasi dengan pihaknya. "Mereka menanyakan apa yang bisa dibawakan untuk menghormati kedatangan warga muslim. Saya katakan azan saja. Beliau (Chrisopher Herbert, red) sendiri mengambil sekolah teologi di Universitas Harvard di Boston," kata Syamsi menjawab pertanyaan tentang berkumandangnya azan di Marble Collegiate Church.

Gereja yang didirikan pada tahun 1854 itu sendiri dipadati oleh ratusan anggota Gereja serta beberapa warga muslim dan Yahudi.

Dialog

Dialog segitiga --Islam, Kristen, Yahudi-- berlangsung santai karena ketiga pemimpin agama kerap saling melontarkan gurauan. "Sekarang dia dulu yang jawab," kata Rubenstein sambil menunjuk Syamsi Ali ketika Pendeta Mulder mengajukan pertanyaan kedua kepadanya. .

"Oh, terima kasih karena memberikan kesempatan duluan kepada yang paling muda," kata Syamsi yang disambut tawa gemuruh dari jamaah.

Bertindak sebagai moderator, Pendeta Mulder mengajukan lima pertanyaan kepada Syamsi dan Rubenstein, yaitu apa pedoman dan prinsip agama yang dianut; masalah terkini yang menjadi keprihatinan masing-masing; apa peranan rumah ibadah masing-masing dalam bidang politik; apa artinya saling menghormati; serta bagaimana mereka merayakan Hari Pernyataan Terima Kasih.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara singkat oleh Syamsi, Rubenstein dan Mulder. Tentang masalah terkini, Syamsi menjawab bahwa persepsi yang salah tentang Islam adalah salah satu isu yang saat ini sangat memprihatinkan.

"Prihatin karena ada kesalahpahaman terhadap Islam, juga adanya Islamophobia (ketakutan akan Islam, red). Media sangat berperan besar dalam membangun pemahaman," kata Syamsi.

Rubenstein melihat perdamaian dengan keadilan sebagai masalah serius yang harus diwujudkan sementara Pendeta Mulder menyebut rasisme sebagai salah satu masalah besar dan memprihatinkan.

Tentang peranan rumah ibadah dalam bidang politik, ketiga pemimpin agama memberikan jawaban serupa, yaitu berusaha mendorong jamaahnya untuk melihat masalah-masalah yang berada di sekililingnya dan bagaimana mereka dapat berkontribusi untuk memecahkannya.

Untuk isu Hari Pernyataan Terima Kasih, Syamsi menerangkan bahwa setiap waktu bagi muslim adalah pernyataan terima kasih. "Kami dibiasakan untuk selalu mengucapkan kata ’Alhamdulillahi Robbil ’Alamiin’," ujarnya.

Sambil menutup sesi dialog, Pendeta Mulder menyebut berlangsungnya dialog segitiga sebagai hal yang khusus yang mewarnai Thanksgiving. Seperti diungkapkan Mulder, dialog seperti pada hari Minggu itu telah memasuki tahun ke-15. (ant/nws)

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=10813

Wednesday, November 21, 2007

Video 23 Minit- Umat Islam Kulit Putih di Texas USA

Penduduk negara China lebih awal memeluk agama Islam berbanding penduduk Malaysia dan Indonesia. Dan kini jumlah umat Islam di China adalah lebih ramai daripada jumlah penduduk negara Malaysia.

Penduduk negara India lebih awal memeluk agama Islam berbanding penduduk Malaysia dan Indonesia. Dan kini jumlah umat Islam di India adalah lebih ramai daripada jumlah penduduk negara Malaysia.

Dewasa ini banyak sekali orang-orang kulit putih di Amerika dan Eropah memeluk agama Islam. Kalai ini kita lihat bagaiman kehidupan umat Islam kulit putih di Texas, USA.

Dipersilakan ke:

http://www.turntoislam.com/forum/showthread.php?t=13