Wednesday, November 28, 2007

Azan Berkumandang di Gereja di New York

New York, NU Online


"Allahu Akbar Allaahu Akbar... Laa Ilaaha Ilallaah", demikian azan --panggilan salat bagi kaum muslim-- dilantunkan dari awal hingga akhir dengan suara bariton oleh Christopher Herbert dan menggema di Gereja Marble Collegiate di kawasan Manhattan, New York.

Suara azan yang dikumandangkan anggota jamaah Marble Collegiate Church itu merupakan salah satu acara yang mengawali berlangsungnya dialog segitiga kalangan penganut agama Kristen, Yahudi dan Islam di New York, Minggu.

Dialog yang mengusung tema "Perspektif dari Tiga Agama" tersebut menghadirkan tiga pemimpin agama, yaitu pemimpin masyarakat muslim Indonesia Syamsi Ali, Pendeta Yahudi Peter J. Rubinstein, dan Pendeta Edwin G. Mulder --mewakili komunitas Marble Collegiate Church.

Mengawali sesi dialog, Syamsi Ali, yang juga Ketua Dewan Masjid Al-Hikmah New York, membawakan bacaan Alquran Surat Ali Imran ayat 102 yang maknanya menekankan bahwa persaudaraan merupakan sebuah karunia. Tidak hanya azan, dialog itu juga dimulai dengan pembacaan doa dan puji-pujian ala Yahudi dan Kristen.

Menurut Syamsi, pengumandangan azan oleh salah satu Gereja telah melalui konsultasi dengan pihaknya. "Mereka menanyakan apa yang bisa dibawakan untuk menghormati kedatangan warga muslim. Saya katakan azan saja. Beliau (Chrisopher Herbert, red) sendiri mengambil sekolah teologi di Universitas Harvard di Boston," kata Syamsi menjawab pertanyaan tentang berkumandangnya azan di Marble Collegiate Church.

Gereja yang didirikan pada tahun 1854 itu sendiri dipadati oleh ratusan anggota Gereja serta beberapa warga muslim dan Yahudi.

Dialog

Dialog segitiga --Islam, Kristen, Yahudi-- berlangsung santai karena ketiga pemimpin agama kerap saling melontarkan gurauan. "Sekarang dia dulu yang jawab," kata Rubenstein sambil menunjuk Syamsi Ali ketika Pendeta Mulder mengajukan pertanyaan kedua kepadanya. .

"Oh, terima kasih karena memberikan kesempatan duluan kepada yang paling muda," kata Syamsi yang disambut tawa gemuruh dari jamaah.

Bertindak sebagai moderator, Pendeta Mulder mengajukan lima pertanyaan kepada Syamsi dan Rubenstein, yaitu apa pedoman dan prinsip agama yang dianut; masalah terkini yang menjadi keprihatinan masing-masing; apa peranan rumah ibadah masing-masing dalam bidang politik; apa artinya saling menghormati; serta bagaimana mereka merayakan Hari Pernyataan Terima Kasih.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara singkat oleh Syamsi, Rubenstein dan Mulder. Tentang masalah terkini, Syamsi menjawab bahwa persepsi yang salah tentang Islam adalah salah satu isu yang saat ini sangat memprihatinkan.

"Prihatin karena ada kesalahpahaman terhadap Islam, juga adanya Islamophobia (ketakutan akan Islam, red). Media sangat berperan besar dalam membangun pemahaman," kata Syamsi.

Rubenstein melihat perdamaian dengan keadilan sebagai masalah serius yang harus diwujudkan sementara Pendeta Mulder menyebut rasisme sebagai salah satu masalah besar dan memprihatinkan.

Tentang peranan rumah ibadah dalam bidang politik, ketiga pemimpin agama memberikan jawaban serupa, yaitu berusaha mendorong jamaahnya untuk melihat masalah-masalah yang berada di sekililingnya dan bagaimana mereka dapat berkontribusi untuk memecahkannya.

Untuk isu Hari Pernyataan Terima Kasih, Syamsi menerangkan bahwa setiap waktu bagi muslim adalah pernyataan terima kasih. "Kami dibiasakan untuk selalu mengucapkan kata ’Alhamdulillahi Robbil ’Alamiin’," ujarnya.

Sambil menutup sesi dialog, Pendeta Mulder menyebut berlangsungnya dialog segitiga sebagai hal yang khusus yang mewarnai Thanksgiving. Seperti diungkapkan Mulder, dialog seperti pada hari Minggu itu telah memasuki tahun ke-15. (ant/nws)

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=10813

Saturday, November 24, 2007

Islam Tiba ni Nusantara Pada Zaman Nabi Muhammad Lagi






Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam?

Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Temuan G. R Tibbets
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.

Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara
Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.



Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz/eramuslim)

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.

Gujarat Sekadar Tempat Singgah
Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.(Rz, Tamat/eramuslim)

Friday, November 23, 2007

LAKSAMANA CHENG HO- Tokoh Islam


Segment from the Islamic Forum of New Mexico on Admiral Zheng He. Zheng He was a Muslim Chinese Admiral and Navigator






ADMIRAL ZHENG HE (CHENG HO) CULTURAL AND HERITAGE MUZEUM- MALACCA

SAINTIS-SAINTIS TERNAMA MENGAKUI KEBENARAN QURAN DAN MUHAMMAD



The greatest Scientists testify to scientific Facts in Quran.

These are short parts of many interviews with the Prominent Scientists in the TV-Program (it is the Truth) which organized by the World Organization of scientific miracles in the Quran, which was broadcast on the Qatari- Television for more than three consecutive hours..

This Program was made during the Eighth international Medical Conference in Saudi Arabia and other scientific Conferences at that Time.

The Scientists who were interviewed during this conference are:

1) professeur keith Moore (USA)
is an eminent Specialist in world fame in surgery and embryology. this professor wrote Anatomy Book named (the Human Development). this book was considered as the best Anatomy Book in the world, written by only one author.

2)Professeur Van Bersoud (canada)
is a professor of Anatomy, pediatry, and obstetrics-gynaecology and sciences of the reproduction at the University Manitoba in Canada. He was there the president of the Department of anatomy during 16 years. He is very recognized in his field. He is the author or the editor of 22 handbooks and he published more than 181 scientific articles. In 1991, he received price more distinguished allotted in the field of the anatomy in Canada, the J.C.B., Great Price of the Canadian Association of the Anatomists.

3)Professeur Joe Leigh Simpson (USA)
is a president of the Department of obstetrics-gynaecology, professor of obstetrics-gynaecology, and professor of human and molecular genetics in Baylor College of Medicine, in Houston, Texas, the United States.

4)Professor Marshal Jhonson
is a professor highly skilled of anatomy and biology related to the development at the university Thomas Jefferson on Philadelphia, Pennsylvania, the United States.

5)Professeur Gerald C (USA)
is a director of program and lecturer of medical embryology at the cellular Department of biology of the Medical school from the Georgetown University in Washington, the United States.

6)Professeur Youchedi Kuzane (Japan)
is a professor highly skilled at the University of Tokyo with Hongo, Tokyo, Japan, and he was already a director of the national astronomical Observatory with Mitaka, Tokyo, Japan.

7)Professeur Tejatat Tejasen (Thailand)
is president of Autopsy Department in the University Chiang Mai in Thailand.. he was a senior of the Faculty of Medicine of the same university.
He embraced islam after reading the Quran

8)Professor William W. Hay (USA)
is a very known maritime scientist. He is a professor of geological sciences at the University of Colorado with Boulder, Colorado, the United States. Previously, he was the senior of Rosenstiel School of Marine and Atmospheric Science at the University from Miami in Miami, Florida, the United States.

9)Professor Alfred kroner (Germany)
is one of the world's renowned geologists. He is Professor of Geology and the Chairman of the Department of Geology at the Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University, Mainz, Germany.

Watch the whole Program on google-video:

it was in arabic but all interviews were in english:

Part 1
http://video.google.de/videoplay?doci...

Part 2
http://video.google.de/videoplay?doci...

Part 3
http://video.google.de/videoplay?doci...

Part 4
http://video.google.de/videoplay?doci...

and here in german language (deutsch)

http://video.google.com/videoplay?doc...

http://video.google.com/videoplay?doc...

More Videos about scientific Facts in Quran (english):

Miracles of Quran:

http://video.google.com/videoplay?doc...

The Scientific Precision of the Qur'an by Professor Al-Najjar:

http://www.youtube.com/watch?v=prNdIG...

in french (fran├žais):

http://video.google.com/videoplay?doc...

http://www.aimer-jesus.com/temoignage...

Learn more about islam:

http://www.islamreligion.com/

http://www.islam-guide.com/

http://www.sultan.org/

http://www.miraclesofthequran.com/

Keindahan Islam

Thursday, November 22, 2007

Yusuf Estes Pilih Islam


SHEIKH YUSUF ESTES.


SHEIKH Yusuf Estes ialah seorang cendekiawan terkenal yang tidak pernah jemu mengembangkan syiar Islam ke seantero dunia serta mengedarkan bahan-bahan ceramah dalam pelbagai medium kepada umat manusia.

Ikuti autobiografi penghijrahan akidah beliau dari seorang pengkhutbah Kristian kepada pendakwah Muslim yang aktif dan disegani.

Saya dilahirkan dalam sebuah keluarga yang berpegang kuat kepada agama Kristian di Midwest, Amerika Syarikat. Hakikatnya, nenek moyang kami bukan sahaja membina gereja-gereja dan sekolah-sekolah sepanjang tanah ini tetapi keturunan kami juga merupakan orang yang paling awal datang ke situ.

Semasa di sekolah rendah, kami sekeluarga ditempatkan semula di Houston, Texas pada 1949. Kami selalu menghadiri gereja dan saya telah dibaptiskan pada usia 12 tahun di Pasadena, Texas.

Pada zaman remaja, saya teringin melawat ke gereja-gereja lain untuk mempelajari Baptist, Methodist, Episcopalian, Charismatic movement, Nazarene, Church of Christ, Church of God, Church of God ini Christ, Full Gospel, Agape, Chatolic, Presbyterian dan banyak lagi.

Namun, pengkajian saya tidak terhenti kepada agama Kristian. Agama Hindu, Yahudi, Buddha, Metaphysics dan kepercayaan tradisi orang Amerika turut saya selidiki. Sayangnya agama Islam tidak menjadi pilihan.

Bagaimanapun, saya tertarik dengan perbezaan jenis muzik terutamanya Gospel dan Klasikal. Memandangkan keluarga saya ramai yang kuat agamanya dan muzikal, ia secara tidak langsung menjadikan dua bidang ini sebagai pengajian permulaan. Semua ini membawa saya kepada jawatan Paderi Muzik di beberapa gereja di mana saya menjadi ahli gabungan selama lebih setahun. Saya mula mengajar keyboard pada 1960 dan sehingga 1963, saya berjaya memiliki studio sendiri di Laurel, Maryland yang diberi nama Estes Music Studios.

Sepanjang 30 tahun, saya dan bapa banyak bekerjasama mengendalikan pelbagai program hiburan. Kami juga membuka kedai piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga ke Florida. Meskipun memperoleh kekayaan namun sukar temui ketenangan fikiran.

Persoalan seperti; “Mengapa kita diciptakan Tuhan?”, “Apakah yang Tuhan mahu kita lakukan?”, “Siapa Tuhan sebenarnya?” dan “Kenapa kita percaya dengan dosa sebenar?” sering menghantui diri. Namun semua persoalan ini dibidas keras malah menyuruh anda menerima tanpa mempersoalkannya atau itulah ‘misteri’ dan anda tidak perlu mempersoalkan hal itu.

Suatu hari tahun 1991, saya terkejut apabila diberitahu bahawa orang Islam mempercayai kitab Bible. Malah lebih memeranjatkan, mereka juga mempercayai bahawa Nabi Isa itu utusan Allah, Rasul, dilahirkan luar biasa tanpa berbapa, Nabi Isa akan kembali pada akhir zaman. Memang ia sesuatu yang sukar dipercayai, apatah lagi fikiran saya tentang Islam agak negatif.

Ayah saya sangat aktif menyokong kerja-kerja gereja, terutamanya dalam program sekolah sehingga beliau ditahbiskan (dipersucikan) pada 1970. Dia dan ibu tiri saya mengenali ramai mubaligh Kristian dan pendakwah sehingga pernah membantu pembinaan “Prayer Tower” di Tulsa, Oklahoma. Mereka berdua juga terlibat mengedarkan kaset-kaset ceramah di rumah-rumah orang tua, hospital dan rumah pesara.

Namun pada 1991, ayah mula berurusniaga dengan seorang lelaki dari Mesir dan menyuruh saya menemui lelaki beragama Islam itu. Pada awalnya saya agak keberatan apa lagi mengetahui bahawa mereka adalah pengganas, perampas, penculik dan pengebom. Bukan itu sahaja, mereka juga bukannya mempercayai Tuhan, yang mereka tahu hanya mencium tanah lima kali sehari dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir.

Tidak! saya tidak akan berjumpa dengannya. Berkali-kali juga ayah mendesak dengan mengatakan dia seorang yang baik. Kerana tidak tahan dengan permintaannya, akhirnya saya bersetuju dengan syarat; pada hari Ahad, selepas ke gereja, membawa kitab Bible, seutas salib dan memakai kep yang tertulis ‘Nabi Isa adalah Raja’. Isteri dan dua anak perempuan saya ikut serta dalam pertemuan itu.

Saya terkejut kerana saya menantikan seorang yang bertubuh sasa dengan jubah, serban, berjanggut paras dada dan bulu kening bercantum di dahi. Tetapi lelaki ini jauh berbeza, tiada janggut dan kepalanya hampir botak. Yang pasti, orangnya menyenangkan dan mesra. Semua ini jauh daripada sangkaan awal saya. Pun begitu, matlamat saya pada masa itu hanya satu iaitu, ‘menyelamatkannya’.

Ketuhanan

Saya banyak bertanyakan soalan kepadanya, terutamanya yang berkaitan dengan ketuhanan dan perihal nabi-nabi. Dia banyak mengiyakan. Kami semakin rancak berbual dan semenjak itu hubungan kami semakin rapat. Saya dapat rasakan yang dia seorang yang baik, pendiam dan sedikit pemalu. Banyak topik yang kami bualkan acap kali bertemu dan ada ketikanya saya cuba selitkan beberapa mesej tentang agama kami.

Pada suatu hari saya dapat tahu bahawa teman Islam saya, Mohamed terpaksa berpindah dan tinggal sementara waktu di masjid. Kami bersetuju menumpangkan Mohamed di rumah besar kami.

Pengenalan pendek dengan seorang lelaki yang mengakui paderi Kristian yang telah melakukan kerja-kerja mubaligh untuk gereja lebih 12 tahun di selatan dan tengah Amerika Syarikat dan Mexico serta di New York membawanya tinggal bersama kami dan Mohamed. Kami berbual tentang konsep kepercayaan dalam agama Islam.

Mengejutkan saya apabila diberitahu bahawa setiap paderi Katolik, mereka belajar agama Islam dan ada di antaranya yang memiliki doktor falsafah dalam subjek itu. Ini satu yang baru bagi saya.

Semenjak itu kami sentiasa berbincang tentang agama masing-masing. Kami pernah bertanyakan perubahan versi kitab masing-masing. Pernah sekali saya bertanyakan kepada Mohamed sejak 1,400 tahun sudah ada berapa versi al-Quran. Pendek jawapannya hanya ada satu iaitu al-Quran malah ia telah dihafal oleh jutaan manusia. Bagi saya ini sesuatu yang mustahil. Bagaimana kitab saya boleh berubah-ubah sedangkan al-Quran tetap terpelihara.

Pada suatu hari teman paderi saya bertanyakan Mohamed keinginannya untuk mengikutnya ke masjid untuk mengetahui keadaan di sana. Sekembalinya mereka, saya bertanya kepada paderi itu apa yang dilakukan oleh orang Islam? Dia memberitahu, tidak ada apa yang dilakukan hanya sembahyang dan pulang. Pelik, tidak ada ceramah ataupun nyanyian.

Beberapa hari kemudian, sekali lagi paderi itu mahu mengikut Mohamed ke masjid. Kali ini mereka pergi agak lama sehingga hari sudah gelap. Bila pulang saya dapati, Peter (paderi) sudah melakukan syahadah. Saya terkejut dan semalaman memikirkan hal itu, lalu menceritakan kepada isteri. Tambah mengejutkan, apabila isteri saya juga menyuarakan hasratnya untuk bergelar Muslim kerana mengakui kebenaran Islam.

Saya terus memanggil Mohamed dan kami berbincang sepanjang malam sehingga masuk waktu solat Subuh, Mohamad meminta izin untuk melaksanakan kewajipannya. Pada detik itu, saya menyedari erti kebenaran dan sudah tiba masanya untuk saya membuat pilihan yang bakal menyelamatkan saya sama ada di dunia mahupun akhirat.

Saya ke belakang rumah, ambil sekeping papan lapis dan di situlah saya sujud mengadap kiblat. Saya meminta, kepada-Nya petunjuk dan bimbingan. Selepas dari itu, saya benar-benar dapat merasakan perubahan di dalam diri. Saya terus naik ke atas dan mandi dengan harapan ia akan membersihkan dosa-dosa. Saya kini seorang yang baru dan berazam membina kehidupan atas dasar kebenaran.

Pukul 11 pagi hari itu, saya mengucap syahadah bersama dua saksi iaitu sebelum ini Father Peter Jacob dan Mohamed Abel Rehman. Kemudian diikuti isteri dan beberapa bulan selepas itu, bapa pula melafazkan syahadah. Anak-anak saya dipindahkan dari sekolah Kristian kepada sekolah Muslim. Sepuluh tahun kemudian mereka berjaya menghafal al-Quran. Akhir sekali, ibu tiri saya pula mengakui kebenaran Islam.”

UTUSAN MALYSAI 13 9 2007


Mohd Farhan Abdullah Pilih Islam

Oleh ZUARIDA MOHYIN


MOHD. FARHAN ABDULLAH AL-HAFIZ.

PENULIS terpanggil untuk menemu bual lelaki bertubuh kecil kelahiran Kota Belud, Sabah ini selepas secara tidak sengaja terdengar suaranya menerusi satu program yang ke udara di IKIM.fm.

Pada masa itu, beliau diminta berkongsi kisah pengislaman, cabaran bergelar mualaf, penglibatan aktif beliau dengan kerja-kerja dakwah dan membantu golongan saudara baru, terutamanya di Sabah.

Tanpa melengahkan masa, penulis terus menghubunginya selepas memperoleh talian telefon bimbitnya. Biarpun sibuk, kesediaan Mohd. Farhan Abdullah al-Hafiz, 39, iaitu Penasihat Pusat Pengajian Tahfiz al-Quran Bestari (PPTQB) yang beroperasi di Serdang, Selangor meluangkan masa, apatah lagi melihat jadual hariannya yang sentiasa padat dengan undangan tazkirah sepanjang bulan Ramadan, amatlah penulis hargai.

Lantaran memahami kesibukannya itu juga, kami (penulis dan jurufoto) akur apabila pemuda berketurunan Kadazan ini terlewat daripada waktu yang dijanjikan.

Menurut Mohd. Farhan ataupun sebelum ini bergelar Paster Yohanes, sebagai anak kepada seorang ketua kepada 15 buah gereja, sudah pastilah dia memiliki latar belakang pendidikan beraliran Kristian yang mantap. Beliau mengikuti latihan ketua mubaligh Kristian selama dua tahun dengan melibatkan diri secara aktif aktiviti dakyah Kristian sebelum melanjutkan pengajian menguasai bahasa Ibrani di Bandung, Indonesia.

“Sungguhpun telah mengusai kesemua ilmu agama Kristian, dua persoalan yang sering bermain fikiran saya iaitu; tentang konsep Trinity dan Majlis Pengampunan Dosa yang disebut Baptis,” ceritanya mengimbas kisah lebih 15 tahun lalu.

Mohd. Farhan yang memeluk Islam pada 26 Februari 1990 di Pusat Latihan Dakwah Keningau, Sabah berkata, dia mula tertarik kepada Islam semasa belajar di Institut Teknologi Mara, cawangan Sabah (sekarang UiTM). Kenyataan seorang pensyarah subjek Pelajaran Islam tentang tuhan Allah tidak sama dengan tuhan agama lain agak memanaskan telinga dan hatinya.

“Jadi inilah peluang saya berhujah, apabila mengetahui beliau juga mahir tentang masalah perbandingan agama termasuklah dalam masalah Teologi.

“Pada masa sama juga, saya mempunyai teman sebilik yang rajin mengaji al-Quran. Kalau sebelum ini, setiap kali terdengar azan sama ada di radio atau televisyen, saya akan cepat-cepat mematikannya. Tetapi semuanya berubah selepas sentiasa diperdengarkan dengan bacaan al-Qurannya yang begitu baik bacaannya dan menusuk kalbu.

“Selain itu, saya juga tertarik dengan akhlaknya. Dia begitu menjaga masanya terutamanya dalam urusan agama. Kami selalu berhujah, dan dia selalu membawa saya bertemu seorang ustaz untuk menyelesaikan dua persoalan yang selama ini terbuku di hati.

Mimpi luar biasa

“Hasil perdebatan, pengkajian dan penelitian tanpa paksaan dan bukan pula kerana inginkan habuan dunia, saya mula tertarik dengan Islam,” tegas Mohd. Farhan ‘mimpi luar biasa’ yang dialami sewaktu bermalam di rumah ustaz menjadi pembuka jalan kepada pengislaman.

Akui beliau lagi, cabaran yang dihadapi selepas bergelar Muslim memang berat dan perit. Apa tidaknya, dia bukan sahaja terputus subsidi keluarga tetapi telah dihalau dari rumah, tidak diakui anak dan hampir-hampir terkena peluru hidup milik senapang bapa yang tersasar bidikan.

Pun begitu, sebelum meninggalkan keluarga, anak kedua daripada enam adik-beradik ini berazam untuk membawa bersama keseluruhan ahli keluarganya kepada Islam. Malah, beliau tidak menjadikan agama sebagai penghalang memutuskan ikatan antara anak dengan kedua-dua ibu bapa.

“Selepas sahaja mengucap syahadah saya berhijrah ke Pertubuhan Kebajikan Islam Malaysia (Perkim) di Kuala Lumpur, sebelum belajar agama di Perkim Pengkalan Chepa Kelantan (1991-1993), Nilam Puri (1994) Pondok (1995), mengambil Diploma Tahfizul Quran di Pusat Islam (1996-1998) dan pada 2000 hingga 2003 berada di Shoubra al-Azhar, Mesir dalam jurusan al-Quran dan Qiraati.

“Selama membawa diri, saya tidak pernah putus-putus berdoa, bersolat hajat, bertanya khabar serta menghantar kitab-kitab berkaitan Islam agar Allah ‘melembutkan’ hati keluarga untuk menerima Islam.

“Alhamdulillah, selepas lapan tahun, doa saya dimakbulkan Allah. Sekarang seluruh ahli keluarga saya menerima Islam. Apa yang saya alami sebelum ini, begitulah juga dialami oleh ayah,” katanya yang telah mengislamkan lebih 2,000 orang dari pelbagai kaum.

Katanya lagi, ayahnya kini senang dengan kehidupan yang sederhana, cukup makan, senang beribadat meskipun sering cuba ‘dipikat’ dengan bermacam-macam bentuk kemewahan dan ganjaran oleh pihak-pihak tertentu supaya kembali kepada agama asal.

“Malah dia juga mewakafkan tanahnya untuk pembinaan masjid dan madrasah sebagai tempat pengajian golongan mualaf,” kata Mohd. Farhan yang menubuhkan Pusat Pengajian Ilmu-ilmu Islam al-Azhar Sabah (PUPIS) bersama beberapa orang sahabat. Mereka melaksanakan Program Dakwah Bergerak secara sukarela di Sabah dan Sarawak.

Mengulas tentang peranannya sebagai pengasas PPTQB, katanya ia ditubuhkan untuk membasmi buta huruf al-Quran dan memperkenalkan pelajaran Jawi dan bahasa Arab serta asas-asas agama di peringkat kanak-kanak. Para pelajar di sini sebahagiannya mengikuti pengajian Pra Tahfiz (4-6 tahun), Tahfiz (7-17 tahun) dan Umumi iaitu terbuka kepada orang dewasa.

Selain menguruskan pusat tahfiz, Mohd. Farhan turut giat menyampaikan maklumat tentang gerakan kristianisasi yang begitu membimbangkan. Harapan beliau juga, semoga umat Islam menjaga iman dan Islam terutamanya generasi muda-mudi yang merupakan sasaran utama mereka.

Baginya, semua pihak tidak perlu menuding jari menyalahkan satu sama lain apabila anak-anak mereka terlibat dengan kerja-kerja yang dilarang Islam. Satu formula saranannya ialah kembali menghayati al-Quran menerusi kempen yang dikenali satu rumah satu hafiz atau hafizah. Ia boleh dilakukan menerusi buku, Kaedah Sistematik Penghafazan al-Quran Jilid 1 & 2.

Tambah Mohd. Farhan, manusia tidak perlu kepada agama lain kerana syarat bagi agama yang sebenar ialah; Pertama, agama itu menyembah kepada Allah dan Allah tidak boleh dinisbahkan kepada makhluk atau benda lain. Kedua, agama itu mempunyai undang-undang yang berbentuk kitab yang meliputi bidang kehidupan secara terperinci dan dipakai dari dahulu hingga sekarang serta tidak berubah-ubah.

Pada kesempatan ini juga Mohd. Farhan menyeru bantuan sumbangan orang ramai untuk mendirikan bangunan bagi kerja-kerja dakwah.

Beliau boleh dihubungi menerusi talian 019-2666 323 atau 03-8942 3624. No akaun Bank Islam: 12-029-01-003493-7 atau Maybank: 5122-68-40494-7 di atas nama Pusat Pengajian Tahfiz Al-Quran Bestari.

http://www.utusan.com.my/utusan/content.asp?y=2007&dt

=0927&pub=Utusan_Malaysia&sec=

Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

Ilmuwan Islam: Al-Jahiz Pengkaji Lebah, Madu



RAHSIA lebah dan madu yang menjadi inti pati episod dua siri Ilmuwan Islam yang ditayangkan di TV3 setiap Jumaat, 7.30 malam, mengajak penonton berkenalan dengan tokoh kebanggaan Islam dulu serta ulama terkenal Mesir hari ini.

An-nahal atau lebah, nama yang dijadikan surah dan disebut kisahnya dalam al-Quran memiliki banyak keistimewaan hingga menarik minat seorang ilmuwan Islam untuk membuat kajian mendalam mengenai serangga yang menghasilkan madu itu.

Beliau ialah Al-Jahiz atau nama penuhnya Abu Uthman Amru ibnu Bahar al-Basri, dilahirkan pada 776 Masehi di Basrah, Iraq, berasal daripada keluarga miskin dan menyara hidup keluarga dengan menjual roti. Beliau digelar al-Jahiz kerana keluasan ilmu dan ketajaman matanya.


Al-Jahiz adalah ilmuwan Islam yang dikagumi kerana cintanya yang tidak berbelah bagi dalam menimba ilmu pengetahuan. Beliau belajar membaca dan menulis atas galakan ibu yang pernah memberikan 'sedulang' kertas nota dan memberitahu kertas itu boleh menyara hidupnya kelak.

Kepakaran beliau lebih menonjol dalam bidang ilmu haiwan berdasarkan buku karangannya. Al-Jahiz menulis lebih 200 naskhah buku meliputi bidang zoologi, tata bahasa Arab, puisi dan kamus. Beliau saintis Islam yang menulis mengenai saintifik dan subjek kompleks untuk orang kebanyakan.

Hasil kerja Al-Jahiz yang terpenting ialah Book of Animals iaitu Kitab al-Hayawan, mengandungi tujuh jilid yang edisinya dicetak. Ia mengandungi maklumat saintifik penting dan jangkaan konsep nombor yang hanya dibangunkan sepenuhnya pada separuh abad ke-20.


Kitab al-Hayawan antara buku terawal yang menyentuh mengenai haiwan atau zoologi. Walaupun sebelum ini sudah ada ulama menghasilkan karya yang sama tetapi ia tidak selengkap yang ditulis al-Jahiz.

Contohnya, Ibnu Qutaibah pernah menulis mengenai al-ibil (unta) dan ada yang menulis kisah al-hammam (merpati) tetapi al-Jahiz dalam buku al-Hayawan menulis semua jenis binatang yang ada di negara Arab.

Dalam buku itu, Al-Jahiz membincangkan perkara mengenai peniruan haiwan iaitu sesetengah parasit menyesuaikan warnanya mengikut haiwan yang ditumpanginya.

Beliau juga menulis panjang lebar mengenai pengaruh cuaca dan amalan pemakanan manusia serta tumbuhan dan haiwan yang hidup di persekitaran geografi serta kawasan yang berbeza.

BERITA HARIAN 22 NOV 2007

Mejar Mohd Khairi Yap Abdullah Pilih Islam Setelah Mengkaji


Oleh TARMIZI ABDUL RAHIM


MOHD. KHAIRI YAP ABDULLAH.
Akhbar Utusan Malaysia 22 Nov 2007

WAHYU pertama yang diturunkan Allah s.w.t kepada junjungan besar kita Nabi Muhammad s.a.w melalui malaikat Jibril pada malam 17 Ramadan ialah Iqra’ (Bacalah) yang memberi signifikan kepentingan menuntut dan menimba ilmu pengetahuan.

Bermula daripada detik itulah, kehebatan Islam terus gemilang dengan membawa rahmat ke seluruh pelosok dunia sehingga menyinarkan zaman kegelapan yang dihadapi oleh bangsa Arab dan penganut agama Islam lain.

Signifikan daripada mukjizat agung itu telah mencorakkan tamadun dunia dengan pelbagai penemuan inovasi dan teknologi yang tiada tolok bandingnya.

Bagi Mejar Mohd. Khairi Yap Abdullah, 44, perkara itu tidak pernah disedari olehnya kerana beliau tidak pernah didedahkan mengenai kemuliaan ajaran Islam. Sementelahan pula anak kelahiran Mentakab, Pahang itu sejak dilahirkan sehingga 29 tahun beragama Kristian dan dibesarkan dalam persekitaran agama berkenaan yang begitu kuat dan menebal.

Kalaupun ada maklumat mengenai agama Islam yang diketahuinya, ia adalah terlalu sedikit dan kononnya ajarannya pula terpesong daripada landasan sebenar - mengikut doktrin Kristianisasi.

Selama 29 tahun menganut Kristian, Islam yang diketahuinya mengandungi pelbagai kekurangan dan cukup sinonim dengan elemen keganasan di kalangan penganutnya demi mencapai matlamat penyebaran dakwah.

Bagaimanapun, sudah menjadi fitrah kepada manusia yang sempurna akalnya untuk mencari kepastian dan kebenaran di atas setiap persoalan yang timbul mengenai agama yang dianutinya dan juga agama yang ‘diperhodohkan’ iaitu Islam.

Semangat mencari kebenaran itu semakin menebal apabila beberapa kekeliruan dan kemusykilan yang timbul di dalam agama yang dianutinya gagal dijawab secara logik dan realistik.

Justeru, perasaan was-was dan curiga mula timbul di benak fikiran dan jauh di sudut hati Mohd. Khairi atau nama asalnya sebelum ini, Yap Mon Fong terhadap kesucian dan kebenaran agama berkenaan.

“Hati saya menjadi bercelaru dan berada dalam dilema kerana jika Islam itu agama tidak elok kenapa begitu ramai penganutnya di seluruh dunia dan setiap sesuatu yang mempunyai kaitan dengan Nabi Muhammad juga menjadi ikutan utama dan tempat rujukan semua penganut agama Islam sehingga kini,” katanya kepada Mega, baru-baru ini.

Mohd. Khairi memutuskan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya dengan melafazkan dua kalimah syahadah pada 3 Februari 1992, pada usia 29 tahun di hadapan kadi Pahang semasa berpangkat Kapten dan berkhidmat di Kuantan, Pahang.

“Kira-kira empat tahun sebelum itu, semasa perasaan was-was terhadap agama yang saya anuti sebelum ini timbul, saya mulai mengkaji secara mendalam secara perbandingan antara semua agama lain termasuk membaca pelbagai genre buku mengenai Islam.

“Semakin mengkaji, kebenaran mengenai agama Islam terus menonjol apabila semua perbuatan ibadah dan kemusykilan tauhidnya walaupun kecil dapat dijawab dengan menyeluruh dan lengkap,” jelasnya.

Mohd. Khairi berkata, kajian mendalam mendapati agama Islam langsung tidak mempunyai cacat cela malah ia mencakupi setiap cabang kehidupan manusia daripada mula ditiupkan roh hingga mati sebelum dibangkitkan semula pada Hari Pembalasan.

“Keburukan yang dimomokkan berpunca akibat kelemahan penganutnya kerana tidak berpegang kepada ajaran sebenar Islam yang diajar oleh al-Quran dan hadis,” katanya.

Mohd. Khairi bertemu jodoh dengan Siti Fatihah Sidek, 44, seorang guru pada 25 Mei 1997 dan hasil perkongsian hidup itu, mereka dikurniakan seorang cahaya mata, Siti Nabilah yang kini berusia sembilan tahun.

Menceritakan kembali saat selepas pengislamannya, beliau berkata, perkara itu disorokkan selama tiga tahun sebelum ibu bapa dan adik-beradiknya akhirnya menerima dengan baik pengislamannya itu.

“Saya masih pulang ke rumah keluarga tetapi cuba mengelak menjamah makanan tidak halal yang dimasak oleh ibu. Saya akan cari pelbagai alasan, antaranya sudah makan semasa di tempat kerja, nak keluar jumpa kawan hingga menyebabkan ibu terperasan sesuatu telah terjadi kepada saya,” katanya.

Kata beliau, ketika ibunya mengetahui mengenai pengislamannya itu, hatinya amat sedih dan kecewa kerana baginya apabila memeluk Islam bermakna menjadi Melayu dan segala hubungan kekeluargaan akan terputus.

Akhirnya, berkat doa yang tidak pernah putus-putus dan akhlak menghormati orang tua telah menyejukkan hati mereka sehingga dapat menerimanya.

“Selama itu, walaupun mereka tidak senang dengan saya tetapi saya tetap menziarahi mereka termasuk semasa perayaan dan majlis keramaian, malah saya juga membawa isteri dan anak saya menziarahi mereka.

“Islam mengajar kita menjadi manusia berguna dan setiap ibu hanya inginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka dan mereka tidak akan sanggup melihat darah daging mereka menjadi jahat,” katanya.

Sementara itu, Mohd. Khairi juga mempunyai kecintaan yang tinggi terhadap ilmu apabila memperuntukkan kira-kira RM500 sebulan untuk membeli pelbagai genre buku ilmiah termasuk mengenai Islam hasil karangan ulama muktabar.

Beliau yang amat mementingkan disiplin hasil asuhan tentera juga mempunyai pelbagai pengalaman menarik seperti menyaksikan sendiri pembunuhan etnik Islam yang berlaku di Bosnia Herzegovina semasa bertugas di negara Balkan itu selama enam bulan pada tahun 1996.


http://www.utusan.com.my/utusan/
content.asp?y=2007&dt=1122&pub
=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

Wednesday, November 21, 2007

Video 23 Minit- Umat Islam Kulit Putih di Texas USA

Penduduk negara China lebih awal memeluk agama Islam berbanding penduduk Malaysia dan Indonesia. Dan kini jumlah umat Islam di China adalah lebih ramai daripada jumlah penduduk negara Malaysia.

Penduduk negara India lebih awal memeluk agama Islam berbanding penduduk Malaysia dan Indonesia. Dan kini jumlah umat Islam di India adalah lebih ramai daripada jumlah penduduk negara Malaysia.

Dewasa ini banyak sekali orang-orang kulit putih di Amerika dan Eropah memeluk agama Islam. Kalai ini kita lihat bagaiman kehidupan umat Islam kulit putih di Texas, USA.

Dipersilakan ke:

http://www.turntoislam.com/forum/showthread.php?t=13

HIJAB di Seluruh Dunia

Video- Nama MUHAMMAD di Langit



During the speech by Dr. Muhammad Tahir-ul-Qadri on the international Mawlid-un-Nabi Conference on the 12th Rabbi Ul Awwal the word MUHAMMAD appeared near the Moon...just as the Shaykh was spelling the name and said "I wish i had a board to write it on" ...Subhannallah!! The clouds wrote it for him!!

-it was broadcasted live at ARY Digital.

'Then which of the Blessings of your Lord will you deny?' Surah Ar Rahman

Subhannallah!! Allahuakbar!!

for clearer pictures check :

http://photos.minhaj.org/pics/displayimage.php?album=111&pos=0

3 Rakyat Holland Memeluk Islam

Al Quran Menceritakan Lapisan-lapisan Atmosfera

Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis.

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."
(Al Qur'an, 2:29)

"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya."
(Al Qur'an, 41:11-12)

Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.

Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut:

Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)

Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.

1. Troposfer

2. Stratosfer

3. Ozonosfer

4. Mesosfer

5. Termosfer

6. Ionosfer

7. Eksosfer

Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, "… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.

Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir.
(http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html)

Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.

SUMBER: Harun Yahya
http://www.keajaibanalquran.com/earth_layers.html

SUJUD Seperti Musa dan Isa (Jesus)

Tuesday, November 20, 2007

Sunday, November 18, 2007

Manusia Perlukan Agama Sepanjang Masa

Oleh: MOHD. SHAUKI ABD. MAJID

AGAMA dalam bahasa Arab disebut din. Selain bererti agama, kata din juga bererti yakin dengan “kekuasaan”, “ketundukan”, “kepatuhan”, “balasan”, “peraturan” dan “nasihat”. Agama memang mengandung peraturan dan hukum yang harus dipatuhi manusia. Agama mempunyai kekuasaan yang membuat manusia tunduk dan patuh kepada Tuhan. Orang yang tunduk dan patuh kepada Tuhan akan mendapat balasan baik daripada Tuhan, sementara yang tidak patuh akan mendapat balasan buruk daripada Tuhan.

Meskipun kini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat, manusia tetap memerlukan agama. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat memberi jawapan atas pertanyaan mengenai makna dan tujuan hidup manusia, yang hanya boleh dijawab oleh agama.

Ini bererti bahawa manusia, meskipun diberi kemampuan akal untuk dapat memikirkan dan mengatur kehidupannya, tidak dapat sepenuhnya mencapai kehidupan yang teratur tanpa adanya peraturan-peraturan agama. Hal ini disebabkan bahawa akal mempunyai keterbatasan tertentu dan tidak mungkin mencapai keseluruhan kebenaran yang ada, sementara peraturan-peraturan agama, kerana diturunkan oleh Allah s.w.t. sebagai pencipta manusia, dapat menunjukkan kebenaran-kebenaran yang hakiki, yang mungkin tidak dapat dijangkau oleh akal fikiran manusia.

Ketika ini kecenderungan manusia moden untuk kembali kepada agama semakin kuat. Kekhuatiran bahawa agama akan ditinggalkan ternyata tidak terbukti. Agama tetap diperlukan oleh manusia sepanjang masa. Terdapat pelbagai motivasi yang membuat manusia memeluk sesuatu agama. Manusia juga memerlukan penjelasan atas pertanyaan mengenai makna, asal dan tujuan hidup. Jawapan terhadap semua itu hanya dapat diperoleh daripada agama.

Dahulu banyak pemikir yang meramalkan bahawa agama akan rosak kerana sudah tidak diperlukan lagi oleh manusia moden yang telah begitu maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian muncullah orang yang mengingkari adanya Tuhan, yang disebut kaum ateis.

Bagaimanapun, kekhuatiran bahawa agama akan ditinggalkan oleh manusia moden ternyata tidak benar. Sejak beberapa dasawarsa terakhir terjadi kebangkitan agama-agama hampir di seluruh dunia, yang ditandai antara lain dengan semakin meningkatnya kunjungan ke tempat-tempat ibadah, ceramah-ceramah agama dan penerbitan buku-buku agama.

Pandangan seseorang terhadap agama ditentukan oleh pemahamannya terhadap ajaran agama itu sendiri. Ketika pengaruh gereja di Eropah menindas para ilmuwan akibat penemuan mereka yang dianggap bertentangan dengan kitab suci, para ilmuwan akhirnya menjauhi daripada agama bahkan meninggalkannya.

Persoalan yang menjadi topik perbicaraan kita mahu tidak mahu akan terus muncul. Apakah agama masih relevan dengan kehidupan masa kini yang cerminannya sebagaimana digambarkan di atas? Sebelum menjawabnya, perlu terlebih dahulu dijawab: Apakah manusia dapat melepaskan diri daripada agama? Atau adakah alternatif lain yang dapat menggantikannya?

Dalam pandangan Islam, keberagamaan adalah fitrah sesuatu yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya. Oleh kerana agama adalah fitrah atau sesuai dengan jati diri, maka ia pasti dianuti oleh manusia, kalaupun bukan sejak muda, namun menjelang akhir usianya.

Firaun yang derhaka dan merasakan dirinya sebagai Tuhan pun pada akhirnya bertaubat dan ingin beragama tetapi sayang kerana sudah terlambat. Oleh kerana agama adalah fitrah, maka ia tidak boleh dan tidak perlu dipaksakan. Mengapa harus memaksa? Tuhan tidak perlu pada paksaan dan akhirnya pun Dia dan agama-Nya diakui. Bukankah agama itu fitrah?

Ini bererti manusia tidak dapat melepaskan diri daripada agama. Tuhan menciptakan demikian kerana agama merupakan keperluan hidup. Memang manusia dapat menangguhkannya sedemikian lama, barangkali hingga menjelang kematiannya. Tetapi pada akhirnya, sebelum roh meninggalkan jasad, ia akan berasa betapa pentingnya keperluan itu.
Keperluan manusia terhadap air dapat ditangguhkan lebih lama jika dibandingkan dengan keperluan udara. Begitu juga keperluan manusia terhadap makanan jauh lebih singkat dibandingkan dengan keperluan manusia untuk menyalurkan naluri seksual. Demikian juga keperluan manusia terhadap agama dapat ditangguhkan tetapi tidak untuk selama-lamanya.

William James menegaskan bahawa selama manusia masih memiliki naluri cemas, bimbang mengharap, selama itu pula ia beragama (berhubungan dengan Tuhan). Itulah sebabnya mengapa perasaan takut merupakan salah satu dorongan yang terbesar untuk beragama.
Murtadha Muthahhari pula menjelaskan, sebahagian fungsi dan peranan agama dalam kehidupan ini tidak mampu dimainkan oleh ilmu dan teknologi. Jelasnya, ilmu mempercepatkan kita kepada tujuan. Agama menentukan arah yang dituju. Ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya dan agama menyesuaikan dengan jati dirinya. Ilmu adalah hiasan lahir dan agama hiasan batinnya. Ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan, manakala agama memberi harapan dan dorongan bagi jiwa.
Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan bagaimana dan agama menjawab yang dimulai dengan mengapa. Ilmu selalu mengeruhkan fikiran pemiliknya sedangkan agama selalu menenangkan jiwa pemeluknya yang tulus. Bukankah kenyataan hidup masyarakat Barat membuktikan hal tersebut?

Manusia merangkumi akal, jiwa dan jasmani. Akal atau rasional ada wilayahnya. Tidak semua persoalan boleh diselesaikan atau bahkan dihadapi oleh akal. Karya seni tidak dapat dinilai semata-mata oleh akal kerana yang lebih berperanan di sini ialah kalbu.
Dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agama sesungguhnya sangat berperanan, terutama jika manusia tetap ingin menjadi manusia. Ambillah contoh bidang bioteknologi. Ilmu manusia sudah sampai kepada batas yang menjadikannya dapat melakukan (merencana atau melaksanakan) genetik.
Apakah keberhasilan ini akan dilanjutkan sehingga menghasilkan makhluk-makhluk hidup yang dapat menjadi tuan bagi penciptanya sendiri?

Apakah ini baik atau buruk? Yang dapat menjawabnya adalah nilai-nilai agama dan bukan seni bukan pula falsafah. Bahkan segala kecanggihan kajian terbaru akan lebih melahirkan (menampakkan) kekuasaan Allah. Dalam hal ini Allah berfirman yang bermaksud: Akan Kami perlihatkan tanda-tanda (kebesaran ) Kami di ruang angkasa lepas sehingga terbukti bagi mereka bahawasanya Dialah (Tuhan) yang sebenar. (surah Fussilat ayat 53).

Demikian apa yang diluahkan oleh angkasawan pertama negara Dr. Sheikh Muzaphar Shukur apabila pertama kali melihat bumi dari angkasa lepas perkara pertama yang terlintas dalam ingatannya ialah tentang kekaguman terhadap kebesaran Allah Yang Maha Esa.
Jika demikian, maka tidak ada alternatif lain yang dapat menggantikan agama. Mereka yang mengabaikannya terpaksa menciptakan agama baru demi memuaskan jiwanya. Bagaimanapun, jiwa tanpa agama adalah jiwa yang telah mati sebelum berkunjungnya kematian yang sebenar.

- Penulis ialah Pengurus Penyelidik Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim).
http://www.utusan.com.my/utusan/content.asp?y=
2007&dt=1118&pub=Utusan_Malaysia&sec=Rencana&pg=re_07.htm

Dua Gadis Barat Menganut Agama Islam



Sains Membuktikan Keajaban Mekah (Mecca)

Maryam In The Last Testament Al-Quran

Gadis China Membaca Al Quran Secara Hafazan

Institut Zaytuna di Amerika Syarikat

Muhammad Ali- Lagenda Tinju Dunia



Islam di Dearborn, Michigan USA



Keajaiban Azan- 24 Jam Tidak Pernah Terhenti