Tuesday, September 16, 2008

Islam di Belanda


Tahun ini menandai lima kali Ramadhan saya habiskan di negeri tulip dan windmolen. Masyarakat Indonesia lebih mengenal windmolen dengan istilah kincir angin, ya betul, kincir angin negeri Belanda, negeri datar yang hampir seluruh daratannya lebih rendah dari permukaan samudra. Di tanah datar ini bunga tulip menyebarkan aroma khas pariwisata ke seluruh penjuru dunia. Tulip adalah Belanda.

Belanda, negara relatif kecil di Eropa Barat, dengan penduduk hampir 17 juta jiwa. Satu juta di antaranya adalah kaum muslimin yang sebagian besar adalah imigran asal Maroko, Turki, Iraq, Somalia, dan juga Indonesia. Tidak dipungkiri, hubungan sejarah Indonesia dan Belanda selama masa kolonial menjadikan pendatang maupun budaya Indonesia cukup mudah ditemui di negeri ini.

Ramadhan di Belanda, sebagaimana di negeri sub tropis lainnya, membutuhkan perjuangan ekstra. Selain kultur budaya dan agama yang berbeda, faktor alam pun membuat banyak perbedaan. Karena letak geografis Belanda jauh di sebelah utara garis katulistiwa, pada musim panas waktu siang jauh lebih panjang dibanding waktu malam. Tahun ini Ramadhan jatuh pada akhir musim panas di mana waktu maghrib tiba hampir pukul 21.00 malam dan subuh pada pukul 4.30 dini hari. Sehingga total waktu berpuasa tahun ini hampir 17 jam, jauh lebih panjang dibanding waktu berpuasa di Tanah Air.

Bagi saya di tahun kelima ini, Ramadhan di Belanda sudah menjadi biasa. Tidak ada lagi rasa kaget dan sepi ketika puasa dan berbuka, yang sering saya rasakan dulu ketika datang pertamakali ke negeri ini. Semarak aktivitas kaum muslimin di negeri Belanda sepanjang Ramadhan membuat saya tetap merasa feeling at home, walau tentu saja ada kerinduan tersendiri mendengarkan suara adzan bersahutan seperti di Tanah Air, karena di Belanda suara adzan umumnya dikumandangkan hanya untuk di dalam masjid.

***

Groningen, kota pelajar di utara Belanda, di sini pertama kali saya habiskan Ramadhan dua tahun pertama. Kota kecil nan damai inilah yang pertamakali merubah rasa sepi, rindu, dan terasing ketika datang ke negeri ini. Komunitas muslim di kota ini luar biasa hangat dan erat. Setiap akhir pekan selama Ramadhan selalu diadakan buka bersama oleh deGromiest – deGroningen Indonesian Moslem Society, komunitas Muslim yang terdiri dari para mahasiswa, pekerja, maupun mukimin asal Indonesia yang telah lama menetap di sekitar area Groningen.

Tidak jauh dari area Rijks Universiteit Groningen, ada sebuah rumah yang telah lama dijadikan masjid oleh warga muslim Groningen asal Maroko. Masjid ini dapat menampung sekitar 500 jamaah. Selama Ramadhan masjid ini penuh oleh jamaah tarwih maupun tadarrus Qur’an. Kami biasa memanggil masjid ini dengan masjid Selwerd. Selalu saya ingat pertama kali datang ke masjid ini adalah jabat tangan erat dan senyuman khas orang Maroko, sambutan yang biasa mereka berikan sebagai tanda ukhuwah dan persaudaraan.

Den Haag, kota pemerintahan, tempat sang Ratu Beatrix bermukim dan bekerja. Kota ini identik dengan masyarakat Indonesia karena mudah ditemui rumah makan, toko, maupun warga asal Indonesia. Dekat dengan pusat kota, berdiri megah masjid Al-Hikmah, masjid yang dibangun oleh KBRI dan warga Indonesia. Seperti halnya masjid-masjid lain, selama Ramadhan masjid ini pun semarak dengan ibadah shalat, tadarrus, tarwih, dan buka puasa.

Amsterdam, ibu kota Belanda sekaligus ikon pariwisata. Di sana semarak Ramadhan menemukan gairahnya. Sebuah organisasi Islam masayarakat Indonesia setiap tahun melaksanakan aktifitas Ramadhan dan tarwih bersama, tidak tanggung-tanggung, mereka selalu mendatangkan imam dan penceramah dari Tanah Air. Suatu kali seorang imam yang hafidz Qur’an datang dengan bacaan yang indah menggetarkan kalbu.

Karena kagum dengan hafalan dan bacaan Qur’an sang imam asal Indonesia ini, seorang wanita Maroko meminta sang imam untuk menikahinya. Sang imam telah berkeluarga, terimakasih ia ucapkan, dengan sopan ia menolaknya. Sumbangan mengalir deras dari para jamaah untuk sang imam yang memiliki yayasan da’wah dan pendidikan di Indonesia. Satu kali terlihat pula sebuah sepeda motor langsung dihibahkan seorang jama’ah tarwih sebagai infaq bagi perjuangan sang imam di Tanah Air.

Utrecht, kota central di tengah Belanda. Di sini ada Stichting Generasi Baru dan Yayasan Bina Dakwah. Mereka semua yayasan yang didirikan oleh masyarakat mukimin Indonesia di Utrecht. Selama Ramadhan kedua yayasan itu bekerjasama membangun semarak ibadah tarwih dan buka bersama.

***

Semarak Ramadhan di Belanda memang luar biasa. Para bule Belanda pun sudah maklum karena intensitas hubungan mereka dengan kaum muslim yang cukup besar. Dalam keseharian, nuansa sinis ala Geert Wilders jarang saya temui, alhamdulillah. Bagi saya sejauh ini, orang Belanda adalah keramahan dan kebebasan beragama.

Suatu pagi, seorang kolega saya di kantor, menawarkan secangkir kopi, minuman penyegar nan hangat yang sangat populer di Belanda. Dalam sehari orang Belanda bisa menghabiskan lima cangkir kopi. Saya tidak suka minum kopi, namun karena sering ditawari, akhirnya sekali-kali saya minum juga. Ini salah satu kebiasaan baik orang Belanda, setiap mereka pergi untuk ambil minum, mereka juga selalu menawarkan minuman untuk orang lain.

‘’Something to drink?’’

‘’No, thanks’’

‘’Are you fasting?, also not drinking? ‘’

Si bule Belanda ini geleng-geleng kepala, rupanya ia pikir saya puasa hanya tidak makan saja, dia sekarang sadar saya pun tidak minum. Sepanjang bulan Ramadhan itu si bule ini selalu melewatkan saya ketika ia pergi untuk minum kopi, sambil tersenyum ia bilang,

‘’Tot volgende maand’’

‘’Sampai (ketemu kopi) bulan depan’’

***

Eko Hardjanto

Eindhoven, 4 Ramadhan 1429 H

sumber

Gempar Kalimah 'Allah' di Seluruh Dunia

Para pengunjung datang berduyun-duyun ke sebuah restoran di Nigeria Utara untuk melihat potongan-potongan daging yang menurut pemilik restoran itu bertuliskan Allah.
Apa yang terlihat seperti tulisan Arab untuk Allah dan nama Nabi Muhammad ditemukan di potongan-potongan daging sapi oleh seorang pelanggan di Birnin Kebbi.

Ketika dia hendak menyantap hidangan, tiba-tiba di melihat otot di dalam potongan daging itu yang mengeja tulisan Allah, demikian menurut pemilik restoran tersebut.

Setelah peristiwa itu, pemilik restoran meneliti potongan daging yang lain di dapur dan dia menemukan tiga potong daging lagi yang memuat nama Allah.
Daging itu direbus dan kemudian digoreng sebelum disajikan, demikan pemilik restoran bernama Kabiru Haliru kepada koran Weekly Trust.

“Ketika tulisan-tulisan itu ditemukan, disini ada beberapa ulama Islam yang sedang bersantap dan mereka semua mengatakan bahwa itu adalah pertanda yang menunjukkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar bagi umat manusia,” kata Kabiru Haliru.

Restauran itu masih menyimpan potongan-potongan daging untuk dilihat oleh para pengunjung.

Ribuan orang sudah datang ke restoran itu untuk melihat sejak potongan-potongan daging itu ditemukan.

Seorang dokter hewan mengatakan kepada surat kabar Weekly Trust, tulisan itu “mengalahkan penjelasan ilmiah”.

“Kalau hanya satu potongan daging yang ditemukan, barulah mencurigakan, tetapi dengan keadaan ini, tidak ada penjelasan,” kata Dokter Yakubu Dominic.

  1. Gelombang Tsunami 26 Desember 2004 (laut)
  2. Wedhus Gembel di Gunung Merapi, Yogyakarta 8 Juni 2006 (Gunung Merapi)
  3. Ledakan di pipa gas milik Pertamina di lokasi lumpur Lapindo 22 November 2006 (api)
  4. Sekerat daging sapi kurban Tasikmalaya 31 Desember 2006 (Hewan Qurban)
  5. Diatas langit Legoso Indah, Ciputat, 17 Februari 2007(Awan)
  6. Dibuah Terong di Jalan Al-karomiah Kampung Lio Jatinegara Jakarta, 24 Februari 2007(buah Terong)
  7. Ditubuh Kucing di Ampera Poncol, Tangerang, Banten, 28 Maret 2007 (Hewan Peliharaan)
  8. Dipohon Akasia di Pekanbaru, Riau, Maret 2007 (Pohon)
  9. Dikulit telur di Makassar, Maret 2007 (Telur)
  10. Dibola Bowling, Februari 2007 (Benda)
  11. Daun Aglonema milik Susilo Hadi Sidoarjo, Jawa Timur, 10 Mei 2007 (Tanaman)
  12. Dikulit Telur, 14 Mei 2007 milik Hesti, Penjaringan Jakarta(Telur)
  13. Kepiting Berlafal Allah, 28 Mei 2008 di Sumenep, Madura
  14. Daging Berlafal Allah & Muhammad, 22 Juli 2008 di Nigeria
sumber

Video: Islam di China

Chechnya Bina Masjid Terbesar di Eropah


Setelah menunggu sekian lama, warga Muslim Chechnya akhirnya memiliki masjid besar yang dibangun di kota Grozny. Masjid itu akan menjadi masjid terbesar bukan hanya di Chechnya-negeri di Utara Kaukasus-tapi juga di seluruh Eropah.

Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov mengatakan, masjid ini akan dibuka secara rasmi pada tanggal 17 Oktober bersamaan dengan hari pertama pelaksanaan International Peacemakers's Conference yang bertajuk "Islam-Religion of Peace and Progress."

Masjid itu diberi nama Masjid Ahmad Kadyrov, nama ayah dari Ramzan Kadyrov. Masjid yang mampu menampung lebih dari 10.000 jamaah ini dilengkapi dengan menara-menara setinggi 180 kaki, yang menjulang ke langit. Di masjid ini juga terdapat kantor administrasi urusan agama Islam Chechnya, sekolah agama, universitas Islam, hotel serta perpustakaan Islami. Pembangunan masjid ini sudah dimulai sejak tiga tahun yang lalu dan menelan biaya sekitar 20 juta dollar.

"Untuk pertama kalinya setelah 60 tahun lamanya, rakyat Chechnya bisa memiliki masjid agung di Grozny sebagai tempat melaksanakan kegiatan dan ibadah, " kata Presiden Ramzan Kadyrov.

Ia mengungkapkan, ketika masih berada di bawah rezim Soviet, tak satu pun masjid bisa dibangun di Chechnya. Masjid-masjid yang ada bahkan ditutup, dihancurkan dan dirampas.

"Rakyat Chechnya tidak pernah punya kesempatan untuk beribadah di dalam satu masjid yang besar, sesuatu yang seharusnya menjadi hal yang biasa di negara Islam dan di wilayah-wilayah di mana agama Islam dianut, " tukas Ramzan. (ln/iol)

sumber

JIM Adakan Majlis Buka Puasa Untuk Mualaf

Bila menyentuh tentang mualaf atau berhadapan dengan mereka, ada semacam stigma di kalangan masyarakat Melayu Islam kita iaitu mereka ini tidak lain, mesti berkehendakkan bantuan.

Hakikatnya, sebagai Muslim kita sewajarnya membantu mereka sama ada dari segi material mahupun sokongan moral. Inilah yang disarankan di dalam ajaran Islam sebagaimana gambaran persaudaraan sesama umat Islam itu umpama sebuah bangunan atau tubuh badan.

Menyedari hal inilah maka pusat sokongan saudara baru, Hidayah Centre, Pertubuhan Jamaah Islah Malaysia (JIM) akan menganjurkan satu Majlis Berbuka Puasa pada 20 September ini di Dewan Persidangan Utama, Kompleks Perbadanan Putrajaya, sebagai insiatif untuk menyatu dan menghimpunkan golongan mualaf serta menyedarkan mereka terhadap peranan serta tanggungjawab sebagai Muslim sejati.

Sehubungan itu, pengerusi pusat sokongan itu, Nicholas Slyvester @ Muhammad Abdullah amat mengalu-alukan orang ramai untuk membeli kerusi atau meja untuk menjayakan majlis tersebut, sekali gus membantu golongan saudara baru berasa tidak terpinggir malah merasakan diri mereka sebagai sebahagian daripada umat Muslim Malaysia.

“Majlis amal ini adalah kali yang ke empat penganjurannya dan orang ramai boleh menyalurkan sumbangan dengan pembelian kerusi yang berharga RM100 setiap satu manakala RM1000 untuk satu meja.

“Pada majlis itu nanti, pihak kami telah mengatur beberapa aktiviti antaranya, solat Maghrib, persembahan nasyid daripada kumpulan Saff-One, solat Tarawih yang akan dipimpin oleh Dr. Ir. Ustaz Muhammad Fuad Yeoh dan tazkirah daripada bekas paderi Roman Katolik dan pendakwah Rabithah Al Alom Al Islami, Ustaz Ayub Adul Rahman.

“Kita juga mengundang tiga ahli panel dalam sesi forum yang akan mengupas tajuk Ke Arah Memperkasakan Saudara Baru di Malaysia. Mereka ialah Timbalan Presiden Persatuan Cina Muslim Malaysia (Macma), Muhammad Fuad Yeoh, Ustaz Kamaruddin Abdullah, Presiden IPCI dan pendakwah bebas, Sister Latifah Tamerlane.

“Manariknya lagi, majlis berbuka puasa itu akan mengumpulkan saudara baru yang terdiri daripada pelbagai keturunan, bangsa, budaya, negara dan warna kulit berhimpun sebagai satu keluarga besar dengan konsep ‘saudara baru, saudara kita,” katanya pada sidang media di pejabat JIM, Lorong Selangor, Taman Melawati, Kuala Lumpur, baru-baru ini.

Tambahnya, majlis ini merupakan salah satu usaha untuk mengumpul dana bagi membiayai pelbagai aktiviti dakwah dan kemudahan kepada umat Islam khususnya golongan mualaf. Malah ujarnya lagi, sumbangan umat Islam Malaysia dan usaha berterusan pihak Hidayah Centre diyakini dapat membantu memasyarakatkan dan memartabatkan saudara baru ini agar melahirkan generasi saudara baru yang soleh dan musleh.

Sebarang pertanyaan bolehlah menghubungi pejabat JIM menerusi talian 03-4108 9669 atau melayari laman web kami di alamat www.hidayahcentre.jim.org.my/blog. Bayaran juga boleh dibuat menggunakan slip bank ke akaun CIMB Bank: 14410009820056 di atas nama ‘Pertubuhan Jamaah Islah Malaysia (JIM)'.

Oleh itu marilah kita hayati sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Barang siapa yang melepaskan kesukaran seorang Muslim, Allah SWT akan melepaskan satu kesusahannya di hari akhirat. (riwayat Muslim).

sumber

Ramadhan di Jepun


Ramadhan adalah bulan suci yang selalu di tunggu-tunggu oleh seluruh kaum muslimin di belahan bumi mana pun, termasuk bagi umat Islam di Jepun. Ramadhan tahun ini berlangsung saat akhir musim panas. Namun, Alhamdulillah sekali pun panas, akan tetapi bukan saat kemuncak musim panas, di mana puasa dimulai sejak pukul 03.36 dan berakhir pada pukul 18.09. Jika di rata-rata maka tidak jauh berbeda dengan tempoh waktu berpuasa di Indonesia.

Meski hampir sama, namun berpuasa di Jepun punya nuansa lain. Kaum muslim di Jepun sebagai warga negara minoriti maka hanya bisa menyuarakan keagungan Allah di dalam bangunan tertutup, sekali pun demikian, mereka tetap bersemangat untuk menyambut datangnya bulan yang penuh berkah ini. Kobar semangat itu tak pernah lekang sepanjang waktu.

Jika di Indonesia atau di negeri-negeri muslim lainnya suasana Ramadhan sudah terasa saat memasuki pusat-pusat perbelanjaan, atau kehadirannya telah terlihat di setiap pelosok negeri dengan ditandai ramainya masjid dan musholla dengan aktiviti ke-Islamannya, maka bagi kaum muslimin di Jepun, Ramadhan hanya marak di dalam hati tiap- tiap umat Islam.

Gebyar Ramadhan dari tahun ke tahun hanya bisa dinikmati di area masjid dan Islamic Center saja, karena Jepun bukanlah negara Muslim, meskipun agama Islam sudah menjadi sebagian dalam kehidupan bermasyarakat di Negara Matahari Terbit itu.

Sepinya suasana Ramadhan di luar tembok masjid di Jepun tidak mempengaruhi kaum muslimin untuk memanfaatkan bulan penuh Rahmat ini. Salah satunya, sebagaimana tradisi dari tahun ke tahun hampir di setiap masjid yang jumlahnya masih belum terlalu banyak, selalu mengadakan acara berbuka puasa bersama, shalat tarawih dan bagi kaum muslimin yang ingin i’tikaf di masjid, maka ada sebagian masjid yang mengadakan kegiatan i'tikaf sampai menyediakan menu santap sahur agar para 'tamu' Allah swt itu tenang dalam menjalankan ibadahnya. Hal ini dilakukan, kerana mencari makanan halal saat malam tiba cukup sulit di Jepun.

Bagi warga muslim asli Indonesia yang sedang berada di Jepun, khususnya di wilayah Tokyo dan sekitarnya dapat merasakan cerianya Ramadhan dengan mengikuti rangkaian acara Ramadhan 1429 H di Balai Indonesia Meguro Tokyo. Balai ini bukanlah masjid, tapi jika Ramadhan tua sporthall-nya dalam sekejap di sulap menjadi masjid. Di gedung tua inilah, maraknya Ramadhan sangat terasa. Setiap hari, selama sebulan penuh ada acara shalat tarawih bersama yang kemudian dilanjutkan dengan acara kajian bersama ustaz yang didatangkan dari Indonesia. Selama satu bulan penuh ada empat orang ustaz yang memberikan siraman rohani kepada masyarakat muslim Indonesia yang ada di Jepun. Kehadiran ustaz dari Indonesia ini mengubati kerinduan muslimin Indonesia yang haus akan ilmu agama. Bukan bererti selama ini mereka tidak belajar Islam, namun ada nuansa lain jika warga muslim Indonesia yang telah bermukim lama di Jepun mendapatkan siraman rohani dari ustaz-ustaz yang didatangkan langsung dari Indonesia.

Dan setiap hari petang Ahad ada acara kajian yang dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama percuma. Biasanya pada setiap hari minggu selama bulan Ramadhan ratusan umat Islam Indonesia mulai dari staff kedutaan, pelajar, warga muslim Indonesia yang bekerja di sektor swasta, serta para trainee berkesempatan beramah-tamah. Di samping itu, saat berbuka puasa bersama ini juga waktunya berwisata kuliner Indonesia setelah lama tidak mencicipi lazatnya masakan khas Indonesia, seperti kolak, soto ayam, bakso, dan lain-lainnya. Acara akbar ini dikoordinasi oleh KMII Jepang (Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia Jepang) yang berpusat di Tokyo.

Usaha menghidupkan Ramadhan di tengah-tengah masyarakat Jepun selain di lakukan di dalam masjid juga menyentuh kehidupan dari rumah ke rumah. Acara berbuka puasa menjadi ajang nyata untuk berbagi kebahagian Ramadhan bersama sahabat. Kerana hidup di luar negeri jauh dari sanak dan saudara, membangun persahabatan berdasarkan aqidah Islam adalah mutlak dilakukan guna mengokohkan keyakinan yang dipeluknya.

Menghidupkan Ramadhan di negeri orang mempunyai tantangan tersendiri. Di tengah lingkungan yang tidak peduli akan keberadaan agama, dibutuhkan niat dan amal yang kuat untuk merealisasikan aturan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan antara sesama warga Muslim memberikan kekuatan moral lebih untuk melaksanakan ibadah kepada Allah swt, termasuk dalam hal mengisi bulan Ramadhan dengan aktivitas berpuasa, tarawih, membaca Al-Qur’an, dzikir, serta amal-amal sholeh yang lainnya.

Ramadhan di tengah kelengangan publik juga merupakan ujian dari Allah swt seberapa kuat kaum Muslimin di Jepun menggemgam izzah Islam di negeri non-muslim. Oleh karena itu, menciptakan moment-moment kebersamaan dengan sesama kaum muslimin lainnya sangat membantu demi tegaknya kalimah Allah SWT di bumi Sakura ini.

Jadi, meskipun sebagai warga minoriti, dan tanpa kemeriahan lingkungan dalam menyambut bulan suci ini, masyarakat Muslim di Jepun menyambuk Ramadhan dengan kemeriahan di dalam dada setiap Muslim. Marhaban ya Ramadhan…. (Sri Wahyuni, Jepang)

sumber asal

Koleksi Ogos 2008